Peranan Pengambilan Keputusan

pengambilan keputusan

PENTINGNYA PERANAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN - Administrasi pada hakikatnya adalah proses pengambilan keputusan. Wewenang yang ada didalamnya pada hakikatnya adalah tanggung jawab untuk pengambilan keputusan, serta menjamin agar keputusan-keputusan yang telah dibuat itu dapat dilaksanakan. Setiap keputusan haruslah diikuti dengan pelaksanaan, dan orang yang membuat keputusan itulah yang pertama-tama bertanggung jawab.

Menurut Copeland mengatakan dalam hal ini setiap keputusan harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan oleh pengambil keputusan itu. Tetapi pelaksanaan keputusan itu tidak terletak pada kekuatan fisik, dan bukan berdasarkan ancaman hukuman, bahkan bukan berdasarkan ancaman lainnya apapun itu, kecuali dalam keadaan luar biasa atau terpaksa. Pelaksanaan keputusan lebih ditekankan pada sifat kepemimpinan dari orang yang mengambil keputusan.
Selanjutnya apa yang dimaksud, bahwa keputusan merupakan salah satu inti dari administrasi. Secara lebih rinci inti administrasi itu bertingkat

Hubungan kerja kemanusiaan (Human relations) disini diartikan sebagai keseimbangan antara disiplin dan kepatuhan institusional dengan perlakuan manusiawi oleh pimpinan terhadap bawahannya.

DEFENISI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Menurut Davis, keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Keputusan itu dibuat untuk menghadapi masalah-masalah atau kealahan yang terjadi terhadap rencana yang telah digariskan atau penyimpangan serius terhadap rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun hak untuk mengambil keputusan pada hakikatnya sama dengan hak untuk membuat rencana. Tugas pengambilan keputusan tingkatannya sederajat dengan tugas pengambilan rencana dalam organisasi.

Dalam hal ini Davis mengatakan bahwa suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan : tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan pun dapat merupakan tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula. Keputusan yang baik pada dasarnya dapat digunakan untuk membuat rencana dengan baik pula.
Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan satu diantara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.

Kemudian pengertian dari pengambilan keputusan (decision making) yang mana Terry mendefenisikan Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih. Tetapi dapat juga dikatakan bahwa bahwa pengambilan keputusan adalah tindakan pimpinan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang dimungkinkan.

Menurut Siagian, pada hakikatnya pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.

Dari pengertian-pengertian tentang pengambilan keputuan itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa keputusan itu diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dan tidak boleh sembarangan. Masalahnya terlebih dulu harus diketahui dan dirumuskan dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan pemilihan alternatif terbaik dari alternatif-alternatif yang disajikan.

3. TUJUAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Secara umum kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam organisasi itu dimaksudkan untuk mencapai tujuan organisasinya, agar kegiatan itu dapat berjalan dengan lancar dan tujuan dapat dicapai dengan mudah dan efisien. Oleh karena itu tujuan dari pengambilan keputusan itu bersifat tunggal, dalam arti bahwa sekali diputuskan, tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain.

Kemungkinan kedua tujuan pengambilan keputusan dapat juga bersifat ganda (multiple objectives) dalam arti bahwa satu keputusan yang diambilnya itu sekaligus memecahkan dua masalah (atau lebih) yang sifatnya kontradiktif ataupun yang tidak kontradiktif. Contoh permasalahan yang kontradiktif, dalam bidang pembangunan terdapat masalah yang kontradiktif dalam membuat suatu keputusan : sebaiknya pembangunan itu dimulai dari desa, dalam arti desa dibangun lebih dahulu, atau dimulai dari desa, dalam arti desa dibangun ledih dulu,atau dimulai dari kota (kota dibangun lebih dulu, baru kemudian menyusul pembangunan di desa). permasalahannya terletak pada : pembangunan berarti pengubahan dari satuasi dan kondisi yang lebih baik.

Situasi dan kondisi yang kurang baik itu antara lain adalah kemiskinan, yang paling banyak di desa. Kalau melihat dari segi ini saja, maka pembangunan haruslah dimulai dari desa dulu, untuk memberantas kemiskinan yang pusatnya ada di desa. Namun pembangunan pun berarti proses pengubahan yang terencana yang berorientasi pada modernitas. Kota mempunyai sifat : masyarakatnya lebih modern dari pada masyarakat desa, dalam arti lebih terbuka untuk menerima perubahan, karena desa lebih tertutup untuk mengalami perubahan, karena ikatan tradisinya lebih kuat. Kalau dilihat dari segi ini saja, maka pembangunan sebaiknya dimulai dari kota lebih dulu. Nanti apabila kota lebih makmur, kemakmuran itu akan mengalir dengan sendirinya ke desa.
Dalam masyarakat yang masih sederhana, biasanya atau secara relatif proses pengambilan keputusan juga akan bersifat sederhana pula. Tetapi dalam masyarakat modern dimana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah maju pesat, keadaan masyarakatnya pun juga menjadi lebih rumit lagi.menurut Siagian hal ini disebabkan oleh :

1. informasi yang harus diperhitingkan lebih besar volumenya,
2. Aparat pelaksanaan keputusan semakin besar jumlahnya,
3. Kepentingan para pelaksana semakin berbeda-beda,
4. Perubahan-perubahan lingkungan yang sangat cepat,
5. Pengetahuan tentang pengambilan keputusan semakin mendalam.
Dalam hal ini dapat disumpalkan pengambilan keputusan dalam masyarakat yang modern perlu diperhitungkan akibatnya dari berbagai segi, sehingga diusahakansejauh mungkin tidak ada pihak-pihak yang dirugikan. Apabila terpaksa ada yang dirigikan, maka kerugiannuya diusahakan seminimum mungkin.

TAHAP-TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Dalam memecahkan masalah, Wallas menyarankan 4 tingkatan pemikiran kreatif yaitu :
1. Tahap Persiapan : meliputi proses perumusan masalah, menganalisis, mengumpulkan informasi yang relavan dan membuat beberapa alternatif pemecahan disertai konsekuensi masing-masing.
2. Tahap Iluminasi : bila dalam tahap persiapan tidak menimbulkan pemecahannya. Tahap ini untuk menenangkan pikiran dan perasaan.
3. Tahap Inkubasi : tahap peralihan antara tahap persiapan dan iluminasi.
4. Tahap Verifikasi : memeriksa kembali permasalahannya untuk dipecahkan kembali.

KOMPONEN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Menurut Prajudi, keputusan merupakan pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individual maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional. Disamping itu keputusan merupakan suatu yang bersifat futuristik, artinya menyangkut hari depan, masa mendatang, yang efeknya akan berlangsung cukup lama.
Martin Starr menyebutkan unsur-unsur atau komponen pembuatan keputusan yang berlaku umum sebagai berikut :

1. Tujuan
Tujuan harus ditegaskan dalam pengambilan keputusan. Apa tujuannya mengambil keputusan itu. Misalnya kalau kita akan membeli mobil baru, untuk apa tujuannya. Dengan menggunakan mobil baru maka pengangkutan akan menjadi lebih lancar tidak khawatir mogok, lebih ekonomis dan lain sebagainya.
2. Identifikasi alternatif
Untuk mencapai tujuan, perlu dibuatkan beberapa alternatif, yang nantinya perlu dipilih salah satu yang dianggap paling tepat. Dalam hal ini perlu embuat daftar macam-macam tindakan yang memungkinkan untuk meadakan pilihan.
3. Faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya
Seorang pengambil keputusan atau pimpinan harus memiliki kemampuan untuk memperkirakan hal yang terjadi dimasa mendatang karena sangat menentukan berhasil atau tidaknya keputusan yang akan dipilih. Misalnya dalam pembelian mobil baru seseorang harus memperkirakan hal apa yang akan terljadi kedepannya, akankah ada kenaikan harga bensin atau tidak, karena kenaikan harga bensin mempengaruhi perhitungan ekonomis bagi mobil komersial. Jadi kemungkinan ini pun harus sudah ikut diperhitungkan.
4. Sarana yang digunakan untuk mengukur hasil yang dicapai
Masing-masing alternatif perlu disertai akibat positif dan negatifnya.

6. PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Proses pengambilan keputusan dapat meliputi :
1. Identifikasi masalah,
2. Pengumpulan dan penganalisisan data,
3. Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan yang nantinya akan dijadikan alternatif-alternatif keputusan, dengan memperhatikan situasi lingkungan,
4. Memilih satu alternatif terbaik untuk dijadikan eputusan,
5. Melaksanakan keputusan,
6. Memantau dan mengevaluasi hasil pelaksanaan keputusan.

Ada pendapat lain yang secara umum memiliki kemiripan pendapat dengan Dunn, yaitu dalam rangka mengambil keputusan diperlukan beberapa langkah secara berturut-turut, yaitu :
1. mengidentifikasi masalahnya,
2. Menganalisis malah,
3. Membuat beberapa alternatif pemecahan masalah,
4. Memperbandingkan alternatif-alternatif,
5. Memilih alternatif yang dianggap terbaik,
6. Mengambil keputusan dengan pasti,
7. Melakukan keputusan dan memantaunya,
8. Mengevaluasi hasilnya.

7. PEDOMAN CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pedoman umum cara pengambilan keputusan yang efektif adalah sebagai berikut :
1. mengetahui penyebab timbulnya masalah,
2. Mengetahui akibatnya kalau masalah itu dibiarkan berlarut-larut,
3. Merumuskan masalah dengan jelas,
4. Usahakan bahwa tujuan keputusan itu tidak bertentangan dengan tujuan          organisasi sebagai keseluruhan,
5. Melibatkan bawahan dalam proses pengambilan keputusan,
6. Harus yakin bahwa pelaksanaan keputusannya itu akan berhasil baik,
7. Menilai hasil pelaksanaan keputusan,
8. Pendekatan yang fleksibel.

8. TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Teori Klasik
Menurut teori klasik, pengambilan keputusan itu haruslah bersifat rasional. Keputusan diambil dalam situasi yang serba pasti, pengambilan keputusan harus memiliki informasi sepenuhnya dan menguasai permasalahannya. Teori pengambilan keputusan ini mendasarkan diri pada asumsi dari orang yang mempunyai pemikiran ekonomi rasinal untuk mendapatkan hasil atau manfaat semaksimal mungkin. Segala sesuatunya mengarah pada kepastian.
Kritik teori ini adalah pengambilan keputusan itu harus berorientasi pada ‘apa yang seharusnya dilakukan’ bukan ‘apa yang ingin ia lakukan’. kritik selanjutnya adalah kita tidak serba mengetahui dengan pasti, ada hal yang belum kita ketahui dengan pasti.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel